Minggu, 11 Maret 2012

Nonton Film 'Negeri 5 Menara' BJ Habibie Jadi Nostalgia

JAKARTA - Usai menonton film 'Negeri 5 Menara', mantan presiden Republik Indonesia, bapak BJ Habibie merasa nostalgia saat-saat dimana mantan presiden itu saat masih kecil.

"Saya tidak bisa menghindari untuk terkenang, jadi nostalgia. Waktu itu indonesia masih miskin dan sangat prihatin, jauh dari kota, masih di hutan, waktu itu tidak pakai sepatu, pakai celana hitam supaya kalau kotor supaya tidaak kelihatan, kemejannya biasa," kenang BJ Habibie di Pasific Place, Sudirman, Jakarta, Minggu (4/3/2012).

Bapak BJ Habibie berharap jika setiap penonton film tersebut bisa memetik hikmah yang terbaik bagi semua penonton.

"Dan saya rasa dari film ini bisa memberikan manfaat. Yang penting adalah film ini mengingatkan bahwa kita harus meningkatkan kualitas cinta kita terhadap pekerjaannya, orangtuannya, tanggung jawabnya, keluargannya," jelas BJ Habibie.



"Negeri 5 Menara" Ajarkan Anak Berani Bermimpi


PT Frisian Flag Indonesia (FFI) mengajak 110 Sekolah Dasar (SD) di beberapa wilayah di Jawa Timur mengikuti road show nonton bareng (Nobar) film Negeri 5 Menara. Acara yang dimulai sejak 7 Maret 2012 tersebut bertujuan mengajak anak-anak berani bermimpi untuk mengejar cita-cita.  
Beberapa sekolah yang disambangi adalah sekolah dasar (SD) yang berada di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto dan Malang. 



Menurut Jr Brand Manager PT FFI Agung Rizky Panditanegara, semua keberhasilan dimulai dengan sebuah impian. Dengan kesungguhan hati dan kegigihan, tidak ada mimpi yang tak mungkin diraih. 
 
"Beranilah bermimpi, dan raih esok yang cemerlang," kata Agung dalam rilisnya yang diterimaokezone, Senin (12/3/2012). 
 
Dipilihnya Negeri 5 Menara, karena film tersebut sarat kisah inspiratif untuk meraih mimpi, khususnya bagi anak-anak. Bahkan dengan film ini dapat mengajarkan seseorang untuk optimis meraih cita-cita. 
 
Agung menceritakan, dalam kisah Negeri 5 Menara menampilkan enam tokoh remaja, antara lain Alif, Baso, Atang, Raja, Said, dan Dulmajid. Dalam cerita tersebut enam sahabat itu  baru saja tamat dari Pondok Madani di Ponorogo Jawa Timur. Alif sendiri bercita-cita meneruskan pendidikannya di teknologi tinggi Bandung seperti Mantan Presiden RI BJ Habibie. 
 
Alif  pun sempat pesimis karena salah seorang sahabat karibnya, justru meragukan dia dapat lulus ujian seleksi perguruan tinggi. 



"Tapi dia tidak putus asa. Terus berusaha untuk tetap menjadi apa yang sudah dimimpikan selama ini," jelasnya.
 
Sulitnya rintangan yang harus dihadapi Alif, tetap dia berpegang teguh pada sebuah pepatah Man Jadda Wa Jadda yang diajarkan gurunya di pesantren. Rupanya pepatah itu mengobarkan api semangatnya kembali. 
 
"Dia berusaha untuk memenangkan hidupnya. Meraih mimpi-mimpinya," imbuhnya.
 
Beberapa kalimat lain yang juga menginspirasi Alif, yakni "Man Shabara Zhafira" yang artinya "Siapa yang bersabar akan beruntung."
 
Berbekal kedua mantra itu Alif menelusuri lika liku hidupnya, dan berhasil meraih semua mimpinya.
 
Selama 15 tahun kemudian, enam sekawan itu akhirnya menemukan bahwa nasib secara ajaib mendaratkan mereka di 5 negara yang berbeda. Ini adalah realisasi mimpi-mimpi mereka ketika duduk-duduk di kaki menara Pondok Madani. Baso, Atang, Raja dan Alif terdampar di hiruk-pikuk kemodernan London dan Washington DC dan eksotisme Kairo dan Madinah. 
 
Sebaliknya Dulmajid dan Said memutuskan pulang kampung. Menempuh jalan sunyi mengajar mengaji di surau dan madrasah. Tangan Tuhan, melalui mimpi, tekad bulat, kerja keras dan doa menuntun mereka ke "menara" hidup mereka masing-masing.
 
Menurut Agung, tidak hanya Alif yang bisa mengubah mimpi menjadi kenyataan. Semua anak Indonesia pun bisa menentukan masa depannya lebih baik lagi. Semua itu tentu saja sangat didorong oleh keinginan sendiri, keluarga, dan orang-orang terdekatnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More